![]() |
| Sumber gambar: google |
Halo. Aku disini adalah netral. Aku tidak berada di kubu mana pun dalam perdebatan yang polarisatif ini. Hanya opini bebas yang kutuangkan dalam ruang blog. Kira-kira sejak awal bulan juli tahun ini, pimpinan negeri ini resmi mendeklarasikan bahwa LGBT ditetapkan sebagai ancaman nonmiliter. Sejak saat itu, entah mengapa, aku merasa semakin sering melihat berita tentang persekusi dan tindakan yang diklaim sebagai upaya "membasmi" LGBT di Indonesia.
Hal tersebut membuatku bertanya-tanya. Mengapa isu ini selalu memancing reaksi yang begitu kuat?
Jika ditarik ke awal, mengapa ada LGBT?
Dari berbagai literatur yang pernah kubaca, tampaknya belum ada satu jawaban tunggal yang dapat menjelaskan secara pasti mengapa seseorang memiliki orientasi seksual atau identitas gender tertentu. Ada yang mengaitkannya dengan faktor biologis, genetik, hormonal, psikologis, lingkungan, hingga kombinasi berbagai faktor tersebut. Sampai hari ini, diskusi ilmiah mengenai hal tersebut masih terus berkembang.
Namun, menurutku, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah "mengapa mereka ada?", melainkan "mengapa keberadaan mereka selalu menjadi perdebatan?"
Di Indonesia, persoalan LGBT tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersinggungan dengan agama, budaya, norma sosial, hukum, politik, bahkan identitas nasional. Bagi sebagian masyarakat, LGBT dianggap bertentangan dengan nilai yang mereka yakini sejak kecil. Bagi sebagian yang lain, LGBT dipandang sebagai bagian dari keberagaman manusia yang seharusnya tetap mendapatkan perlindungan sebagai warga negara.
Dua sudut pandang tersebut sering kali bertemu bukan dalam ruang dialog, melainkan dalam ruang konflik.
Yang membuatku prihatin adalah ketika diskusi berubah menjadi persekusi. Ketika seseorang tidak lagi dinilai dari perilakunya, melainkan semata-mata dari label yang melekat padanya. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kekerasan jarang sekali menyelesaikan perbedaan pandangan. Kekerasan justru melahirkan ketakutan, kebencian, dan jurang yang semakin lebar.
Lingkungan ku
Aku adalah seorang wanita biasa. Tak ada yang menonjol, kecuali selera makan ku yang selalu banyak wkwkwk. Aku memiliki seorang teman kuliah yang merupakan bagian dari LGBT, tepatnya seorang gay. Kami sudah berteman selama bertahun-tahun, tetapi baru pada tahun kelima aku mengenalnya, ia bercerita bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis. Dari situlah aku mulai mendengar banyak cerita yang sebelumnya tidak pernah kuketahui. Salah satu hal yang paling membuatku tertawa adalah keyakinannya bahwa ia bisa membedakan mana laki-laki heteroseksual dan mana yang homoseksual hanya dari sekali tatap. Karena aku memang dari dulu suka nongkrong sama dia sampai larut malam, kami sering menghabiskan waktu di restoran cepat saji yang buka 24 jam. Di tempat-tempat seperti itu, "radarnya" sering bekerja. Ia bisa menunjuk seseorang yang baru masuk ruangan dan berkata dengan yakin, "Kayaknya dia gay."
Teman keduaku kujumpai saat aku bekerja di pulau dewata. Setelah setahun berteman dia tiba-tiba confess bahwa dia adalah seorang gay. Dia adalah penderita kanker stadium akhir. Badannya kurus setelah sejak usia sekolah dia harus menerima takdir melawan kanker. Kekasihnya yang membuat dia kuat. Temanku yang ini bukan tipikal yang berganti pasangan walau dia Gay. Di tengah perjuangan melawan kanker stadium lanjut, cinta dari orang yang selalu mendampinginya tampak menjadi salah satu sumber kekuatan terbesarnya. Ketika aku jatuh sakit cukup berat, ia rela menyempatkan diri mencarikan dan membelikan obat untukku, padahal ia sendiri sedang terburu-buru berangkat kerja.
Teman ketiga yang kukenal adalah yang sampai saat ini menjadi teman kantorku. Setelah bertahun-tahun berteman dengan beberapa orang gay, aku merasa sudah mewarisi sedikit "radar" dari mereka. Tapi ternyata ke teman ku yang satu ini tidak mempan rupanya. AKU GAK NYANGKA TERNYATA DIA JUGA BELOK.
Jadi ceritanya, tahun lalu itu aku habis putus, aku lagi galau berattttt. Untung sahabatku ini lagi ga sibuk, kita pergi lah tuh kan ke bar wkwkwk. Seperti biasa, aku bukan penganut minuman pahit dan strong. Kita pesen cukup cocktail 1 pitcher. Di pertengahan sesi curhat, dia entah mengapa malah admit bahwa dia adalah seorang penyuka sesama jenis. Aku tertegun, muka ku tanpa ekspresi dan berusaha tetap tenang. Aku bahkan sempat berpikir, jangan-jangan aku salah dengar, atau mungkin efek alkohol mulai bekerja lebih cepat dari yang seharusnya...
Dan akhirnya dia bercerita panjang lebar malam itu. Sebuah pengakuan yang mungkin sudah lama ingin ia sampaikan. Dia tidak memiliki riwayat pelecehan seksual sebelumnya. Dan ia mengatakan bahwa perasaan suka sesama jenis sudah timbul lama sejak dia SMA.
LGBT di Indonesia
Aku memahami bahwa Indonesia memiliki nilai budaya dan norma sosial yang kuat. Aku juga memahami bahwa banyak orang merasa perlu mempertahankan nilai-nilai tersebut. Namun pada saat yang sama, aku juga percaya bahwa setiap manusia memiliki martabat yang perlu dihormati.
Menghormati seseorang tidak selalu berarti menyetujui seluruh pilihan hidupnya. Sebaliknya, ketidaksetujuan juga tidak harus diwujudkan dalam bentuk penghinaan, persekusi, atau penghilangan hak-hak dasarnya sebagai manusia.
Jujur, tidak semua cerita yang kutemui membuatku mengangguk. Salah satu dari yang kukenal yang sangat berbeda. Ia sering berganti pasangan dan tidak percaya bahwa cinta harus selalu berlabuh pada satu orang yang sama. Tak jarang ia membawa kenalan baru yang ditemuinya untuk menghabiskan malam bersama (one night stand). Secara pribadi, aku tidak sejalan dengan gaya hidup seperti itu, terlepas dari orientasi seksualnya. Dia cukup disiplin dalam menjaga kesehatannya. Ia rutin mengonsumsi PrEP sebagai pencegahan HIV dan secara berkala menjalani pemeriksaan infeksi menular seksual. Dari dirinya aku belajar bahwa orientasi seksual dan pilihan gaya hidup adalah dua hal yang berbeda. Sama seperti pada kelompok heteroseksual, ada yang memilih hubungan monogami, ada pula yang tidak.
Kita semua punya hak dan pendapatnya masing-masing. Tapi yang tidak tepat menurutku adalah ketika menggunakan kekerasan untuk memaksakan pendapatnya. Apakah harus menyiksa seseorang yang dianggap menyimpang. Menurutku semua keyakinan tidak ada yang membenarkan kekerasan. Dan semua keyakinan pun tidak akan ada yang membenarkan penyimpangan LGBT. Semua orang punya hak untuk hidup.
Sebagai dokter, aku sempat mencari bagaimana dunia psikiatri memandang LGBT. Dalam DSM modern, homoseksualitas tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa. Artinya, orientasi seksual pada sesama jenis tidak dipandang sebagai penyakit yang harus diobati. Namun di luar ranah medis, isu LGBT tetap menjadi topik yang kompleks karena bersinggungan dengan budaya, agama, hukum, dan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

.png)

.png)

.png)
