Dewi Arianna Manullang
  • Home
  • BLOG
    • #Dear Journal
    • Kesehatan
    • Poem
    • Foodie
  • Sinema&Drama
  • Partnership
  • REVIEW
  • Contact Me
    • Twitter
Seminggu sebelum pergantian tahun, Tulisan ini hampir dibuat namun karena kesibukan sempat tertunda.



Siang ini, mungkin aku terlambat menuliskan lembaran 2025 yang telah berlalu. Tapi blog tidak mengenal kata terlambat—ia hanya tahu satu tugas: merekam. Menyimpan jejak sebelum semuanya perlahan memudar dari ingatan.

Januari, awal tahun. Akhirnya aku pertama kali memijak kaki di lantai pesta dansa. Benar-benar kaget sekaligus kagum. Lampu-lampu kelap kelip, musik keras dan tarian yang semakin malam semakin panas. Aku tidak akan melupakan itu. Aku merasa lepas, sebagian jiwaku yang tak pernah kukenal sebelumnya keluar, aku bisa dengan leluasa menari bebas, dengan pengaruh alkohol yang mulai menguasai tubuh. 

Tapi aku tetap pada batasan, karena ada nilai diri dan prinsip yang harus dijaga. Di titik itu aku menyadari, kebebasan tidak selalu berarti kehilangan kendali. Justru aku belajar bahwa mengenal sisi gelap, liar, dan impulsif dalam diri bukan untuk dituruti sepenuhnya, melainkan untuk dipahami.


Kemudian pada momen setelah fase euforia, ada masa dimana keluarga mulai mengalami tantangannya, yang mengakibatkan aku harus tinggal sendiri di ibukota. Tak tau hingga sampai kapan aku harus hidup sendiri, berharap semua kembali seperti dulu lagi. Tapi tidak mengapa; karena dunia memang tak harus berada pada genggaman kita. 

Adaptasi tinggal sendiri mulai banyak tantangan. Aku kembali mengalami perasaan sepi, dimana sebelumnya tidak pernah aku rasakan.  Sebagian besar tahun 2025 kuhabiskan dengan menjomblo. Tanpa kekasih, hanya pria-pria yang datang silih berganti, singgah sebentar, lalu pergi tanpa pernah benar-benar menetap.

Aku menyibukkan diri dengan magang di suatu departemen spesialisasi yang sedang kutuju. Di sana, aku belajar bahwa ilmu bukan hanya soal diagnosis dan tata laksana, tetapi tentang kehidupan dan air mata manusia. Empatiku bertumbuh perlahan, dan hatiku semakin tergerak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Aku menyaksikan kasih yang tetap hidup meski telah dilukai, seseorang yang masih mengasihi orang yang menyakitinya. Aku juga bertemu pasien yang berusaha melindungi orang yang dicintainya, bahkan ketika orang tersebut telah melanggar hukum. Di ruang-ruang sunyi itu, aku tersentuh dan kagum: betapa dunia menyimpan begitu banyak keajaiban dalam bentuk manusia dan luka-lukanya.



Salah satu murid saya di kegiatan ASN Mengajar. Di foto ini aku mengajar kelas kecil yaitu berisi sekitar 4-5 orang anak PAUD. Saya mengajarin mereka calistung
Di sini... aku sedang menjadi tim relawan pendamping anak-anak panti ke Taman Mini. 
Padahal aku aja teraekhir kali ke TMII itu pas SMP wkwkwkwk.
Makin bagus lo TMII nya

Pada pertengahan tahun juga, aku banyak mengikuti kegiatan volunteer. Aku mengikuti kegiatan relawan ini untuk bisa menumbuhkan kepekaan sosial dan empati, selain mengisi portofolio kegiatan informal. Dan aku ternyata menikmatinya. Mengajari anak-anak kecil usia PAUD hingga SMA dari kelompok marjinal, mulai dari mengajari mata pelajaran sekolah, mengajarkan bermain recorder, bermain musik hingga menjadi pengiring acara penampilan bakat mereka saat 17 agustusan. Aku sangat menikmatinya walau sangat melelahkan. Bayangkan, pernah suatu ketika, dari hari jumat pagi di kantor, lanjut jaga malam part time di Rumah sakit swasta, lalu keesokan paginya nyambung langsung ke tangerang selatan untuk kegiatan volunteer. Sungguh luar biasa wkwwkwkkwwk. 





Di pertengahan agustus, Indonesia berduka. Terjadi kerusuhan yang entah karena apa. Indonesia benar-benar seperti perang. Antara pemerintah dengan rakyatnya. Aku bertugas pada hari itu. Dan yang kulihat sungguh menyedihkan. Darah berceceran dimana-mana. 

Menanjak trimester ketiga tahun 2025, ujian besar dimulai. Pertarungan bak perang bintang. LPDP sungguh menguras tenaga dan pikiran. Aku kalah. Jatuh jauh, ke bagian bumi yang paling sunyi dan gelap. Di sana, putus asa sempat tinggal, dan hingga kini bayangnya masih sesekali mengetuk. Sempat putus asa (sampai sekarang). Tapi aku harus tetap bangkit. Maka aku berdiri perlahan, bukan karena aku sudah kuat, tapi karena di luar sana, kelak, ada jiwa-jiwa yang akan membutuhkan tanganku.

Di hari yang sama, dalam keadaan paling rapuh, aku melakukan sesuatu yang nekat: mengajak tetanggaku (yang diam-diam sudah lama kutaksir) untuk berjalan bersama. Dan entah bagaimana, ia mengiyakan. Hari itu juga. Terima kasih, Dion. Tanpa banyak kata, kau mengobati hatiku yang hancur di hari itu.

Kejadian selanjutnya yang harus direkam di blog ini. Adik bungsuku melangsungkan pernikahannya. Aku sedih sekaligus bersyukur. Kami juga mengadakan pesta di kalimantan barat. Pertama kalinya aku menapak kaki ke pulau borneo. Ternyata makanan di Pontianak enak-enak wkwkwkwk 

Bersama dua penari Dayak di pontianak saat acara pernikahan adik tersayang

Akhir tahun, aku mengadakan perpisahan di dua tempat sekaligus. Yaitu di Rumah Sakit tempatku bertugas dan perpisahan karena Komandanku tersayang pensiun. Aku tidak tau apa akan ada sosok atasan yang bisa menerimaku seperti dia. aku hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi. Dia selalu membelaku disaat aku tidak layak untuk dibela. 

Ini dia.. komandanku tersayang. 

Dia bisa berusaha memahamiku saat aku mengambil keputusan. mendukungku mengejar mimpi. mendengar curhatanku disaat ibu kandungku sendiri sedang tak dapat memahaminya. 

Lagi perpisahan Bu Ris di Hachi Grill Sunter hehehehe

Untuk semua keberanian yang kamu tularkan,Untuk pembelaan tanpa banyak kata, untuk ruang mimpi yang kau buka lebar. Terima kasih, Komandan. Selamat melanjutkan perjalanan.

Suatu rumah sakit di daerah rawamangun, Satu setengah tahun di IGD bukan waktu yang singkat. Di sini aku belajar bertahan dalam ritme cepat, mengambil keputusan dalam keterbatasan, dan tetap manusiawi di tengah situasi paling genting. Banyak kejadian besar yang kembali saya pelajari ulang. Dari menerima pasien code blue sampai persalinan normal! Karena ilmu kedokteran memang seluas itu. Bersyukur atas orang-orang di dalamnya, yang memaklumi ketidaksempurnaan saya sebagai dokter jaga. THANKYOU TEAM. 


Ini dia.. tim IGD RS tercinta
Termasuk jahitan yang susah dan rumit.


Akhir tahun 2025, hati kembali bergejolak. Aku jatuh cinta dengan hebatnya, pada seseorang yang berbeda agama.  Dan entah mengapa, bagi manusia yang sedang dimabuk cinta, perbedaan itu tak lagi terasa sebagai persoalan. Seorang workaholic. Dimana dunia dia hanyalah pekerjaannya. Ada magnet yang terasa sejak awal, liar tapi dalam. Ia kusebut dalam doa, meski hingga kini waktu belum juga berkenan mempertemukan kami. Padahal, rumahnya adalah alasan paling sederhana mengapa aku ingin selalu menghabiskan long weekend di sana.

2025 adalah tahun gagal dan perpisahan. Tahun jatuh cinta dan patah hati.
Ada ciuman liar di dekat panggung DJ, ada alkohol yang menyalakan keberanian, ada diri yang belajar jujur pada rasa, meski tak selalu berakhir indah. Ini juga tahun perpisahan, karena rupanya kita memang harus belajar bertumbuh justru saat berada di zona paling tidak nyaman.
Terima kasih, 2025. Kau tidak mudah, tapi luar biasa, karena darimu aku belajar mengenal diri dengan lebih utuh.

 


 

27 Oktober 2023, pada musim panas dan terik di Jakarta Utara, hari terakhir dari rangkaian pelaksanaan Akreditasi Klinik yang melelahkan, disitu ia pertama kali muncul. Rasa gugup pasti ada namun ntah mengapa tak terlalu besar, tapi rasa penasaran sangat mendominasi. Karena dia adalah sosok yang kukenal sudah sejak pertengahan tahun 2018 lampau, yang karena peraturan alam semesta kami hanya baru boleh berjumpa sekarang. Lagian tak masalah jika berawal dari perasaan penasaran, bukan? Karena yang tak pantas adalah jika diawali oleh sebuah nafsu.

Pertemuan berlangsung biasa-biasa saja. Hingga kita sampai pada pertemuan kedua, di sebuah toko donat. Aroma harum dari kue-kue manis bercampur wewangian latte yang sedang diracik, bersemburat di udara, mengalir dan terhirup oleh pengunjung. Hangat, sehangat suasana perbincangan di salah satu meja di lantai 2. Kita berbicara tentang hal apapun, dan entah apa ingat, disitu secara tersirat kau memujiku cantik. Malamnya saat kau mengantarku pulang ke depan lobby apartemen, langit hitam berarak tinggi, seperti ada semburat bintang jatuh melesat di angkasa, aku mulai merasakan sesuatu. Suatu yang tak wajar. Ada yang bergejolak di dalam dada, berdetak pesir, hangat, candu..

Setahun kita berjalan beriringan, aku mendampingimu semaksimal yang kumampu, bersama menaiki tajam dan curamnya roller coaster kehidupanmu saat ini. Aku tidak dapat merasakan sebagaimana para perempuan lain yang terlebih dahulu kau kencani. Kau bahagiakan mereka tanpa mengenal batas. Sementara disini aku, menerima keterbatasanmu hanya untuk menjadi kesia-siaanmu. 

Kau menyakiti perasaanku dengan kata-kata yang tak semestinya, sampai detik ini kata maaf pun tak pernah berucap dari mulutmu. Kita saling berteriak penuh amarah, hal yang seharusnya tidak dilakukan olehmu yang selalu meninggalkan wangimu di pakaian yang kukenakan tiap kali kita berjumpa. 


Aku tahu Tuhan yang memberi jalan, dan aku yang menjalani.  Aku tidak akan mengkambinghitamkan Tuhan jika saat ini aku salah jalan. Aku akan menyalahkan diriku yang memilih jalan ini. Aku maafkan, atas semua kata-kata kasarmu, yang masih membuat luka di dadaku sampai saat ini. Tapi, mungkin ini adalah sebuah sudah. Cinta yang mungkin sudah saatnya selesai.

Tuhan yang menciptakan cinta, dan aku yang menjatuhkan cinta tersebut padamu. Aku percaya ini bukan sebuah kesalahan, karena waktu yang mengantarkanmu untuk bertemu dan memelukku tidak pernah salah.

Namun, mungkin bukan kamu nya yang salah, tapi lajurnya. Lajur yang mengantarkanmu padaku, sudah berhenti.




Januari. Tulisan ini didedikasikan untuk Januari. Bulan spesial. Bulan nya Saya. Mungkin tak cukup spesial bagi semua orang. Tapi hal itu berlaku untuk saya.


Tiga puluh tiga tahun genap hidup di dunia ini, masih banyak hal-hal yang belum dicapai. Hal yang diam-diam masih dilangitkan, naik ke angkasa, sampai ke para penguasa. 

Tiga puluh tiga tahun, pertama kali menginjakkan kaki di klub malam, mulai menikmati saat-saat tak dapat berpikir jernih karena alkohol yang menghanyutkan, melebur bersama dendang musik DJ dan tarian-tarian yang semakin larut biasanya semakin liar. 

Tiga puluh tiga tahun. Putus. Atas semua keputusan yang diambil, semua luka dan kekecewaan. Tak boleh berpikir kenapa harus putus, namun bagaimana kalau tidak putus-putus. Kata nenek moyang, balikan sama mantan itu sama seperti berusaha memasang mematut kembali serpihan cermin yang tlah pecah. Mau diusahakan bagaimana pun, sudah rumit dan berjejas.

Tiga puluh tiga tahun. Berani keluar dari lingkaran pertemanan toksik. Berani berkata tidak. Karena tak semua teman kehilangannya patut ditangisi. Tidak semua orang dapat menjadi teman. Teman adalah sosok penuh kasih yang mengerti batasan-batasan yang kita buat tanpa bertanya mengapa, hanya perlu cukup diam memahami tanpa perlu tau apa. 


Januari menjadi kelam seketika karena puncak kejenuhan atas lingkaran toksik, tapi saya disadarkan kembali. Tuk melihat sekeliling saya. Tuk fokus pada berkat. Yaitu ada mereka, orang-orang gila yang dihadirkan Tuhan ke hidupku. Dimana mereka sudah melihat wajah asliku tanpa make-up dari lagi pulas tertidur sampai bangun tidur dengan rambutku yang terangkat bagai singa. Dari yang terbirit-birit pagi hari ke kamar mandi kantor karena belum mandi dari rumah, sampai sudah memoles diri hingga seantero penghuni kantor mencuri pandang.


Tiga puluh tiga tahun. Mulai semakin kukuh mengejar cita-cita. Saya tau jalan yang akan saya lalui berbeda dengan yang lain. Jalan yang banyak bebatuan dan bebukitan untuk ditanjak diikuti jurang dalam yang entah mana dasarnya pun mungkin harus saya jalani. Tapi saya tau bahwa Tuhan berjalan di samping saya, di belakang saya dan di depan saya. Saya bisa bersandar kepada Nya. 


Di usia segini dan kondisi finansial yang begini, menurut akal manusia saya mungkin saya tidak akan pantas melanjutkan sekolah. Tapi tidak ada salahnya mencoba dulu. Kenapa saat saya bertanya kepada Nya tentang prodi apa yang harus saya ambil, perkataannya seolah jelas mengarah ke suatu spesialisasi tertentu. Pintu yang tadinya tergembok rapat itu pun, mulai terbuka sedikit demi sedikit. 


Saya hanya perlu tetap mengingat bahwa meskipun saat ini saya tertatih-tatih, tidak ada pilihan lain selain terus maju. Bagaimana saya ingin turut maju dan menjadi berkat lebih banyak lagi di bidang spesialisasi tersebut. 

Saya bersyukur atas pekerjaan yang diberikan, walau terasa lelah, namun pekerjaan ini adalah yang dari dulu saya panjatkan doanya. 

Saya bersyukur atas pintu-pintu yang mulai terbuka, semoga menjadi jalan bagi saya untuk masa depan yang selaras dengan kehendak Tuhan. 


Happy Birthday, Me!!!!!


 Waktu menunjukkan hampir pukul 5 dini hari. Subuh. Hening. Tapi tidak dirumahku, alunan musik dj berkumandang kencang. Beberapa hari ini saya menyukai aliran musik dj, meskipun setelah 32 tahun hidup saya tidak pernah ke diskotik atau club manapun. Tapi, kesukaan terhadap musik dj tak serta merta karena kita pernah ke club, bukan?

Kembang api bersemburat, berkibar di udara. Ini malam pergantian tahun. Banyak harapan dipanjatkan, banyak doa dilangitkan. Tak berbeda dengan saya, tentunya.

Tahun baru ini, saya akan mulai mencoba meraih mimpi-mimpi saya. Bukan untuk pencitraan maupun untuk lari dari masalah, nemun untuk membantu orang lebih banyak lagi, lewat mimpi saya itu. Pikiran terlalu melayang jauh, sendirian di rumah, bersama elemen yang membuat melayang, laksana wayang digenggam dalang. 

...Aku berada di angkasa, memohon petunjuk kepada yang kuasa, apakah hubungan itu harus dilanjutkan di tahun yang baru ini, atau berhenti.



-4 Januari 2023, Jakarta, yang sedikit mendung-
Rintik hujan jatuh turun memeluk bumi. Aroma laut teredam sementara, mungkin itu musim yang beberapa hari ini menemaniku dalam menggenapi kenyataan bahwa sudah tiga puluh dua tahun aku dipercayakan hidup di atas permukaan bumi.

Hari berjalan biasa-biasa saja. Menghadiri undangan interview dari salah satu tempat dan sesampai di kantor menenggak sebuah sloki dari atasan. Pizza Limo 1 meter dua kotak, disertai perbincangan saya dengan atasan siang itu.
"dok..dokter jangan pulang dulu ya.."sahutnya, dengan mata menerawang. 


Kali kedua aku merayakan ulang tahun di tempat yang sama, dengan orang-orang yang sama. Tidak ada yang berbeda, kecuali mungkin di ulang tahun kali ini aku sudah memiliki seseorang yang bisa menguras emosionalku. Seseorang yang tak kutahu akan sampai dimana lajunya denganku. Akan tetap berada di jalur yang sama atau akan berbeda jalur denganku di kemudian hari.


Berterimakasih kepada orang-orang yang dihadirkan. Orang-orang yang memberikan berkat, yang mungkin belum tentu bisa kubalas saat ini. Tapi akan kubalas nanti, suatu hari nanti, di kemudian hari. 

Tiga puluh dua bukan lagi bisa dikatakan usia muda. Tapi mungkin belum tua-tua banget juga wkwkwk. 

Saat ini sudah masuk pertengahan tahun. saya tidak menyangka tulisan ini tertunda begitu lama untuk dapat siap saya publikasikan di laman blog saya. Ada hal-hal yang setengah tahun belakangan mencuri perhatian. Kesibukan bekerja tentu menjadi salah satunya. Melamar pekerjaan kesana kemari. Dan saat ini saya akhirnya resmi terpanggil untuk melayani di salah satu Rumah Sakit Swasta di Rawamangun. 

Saat ini saya sudah cukup banyak berubah. Berubah hampir dalam hal apapun. Saya tidak berminat lagi nongkrong selepas kerja sampai larut malam, lebih memilih langsung pulang ke rumah berdiam di kamar menanti pagi. Saya tidak suka berkenalan dengan banyak orang ataupun sekedar berbasa basi jika berpapasan di jalan, ya, saya memilih menghindar, segera pergi dan buru-buru ke tempat tujuan saya atau sekedar mencari tempat persembunyian. Saya mencari sunyi. Ruangan sepi. Tanpa ada siapa-siapa. 

Padahal saya dahulu saya adalah seorang extrovert. Saya suka berdekatan dengan banyak orang. Mendapat energi dari aktivitas sosialisasi. Saya suka mengenal banyak orang, menjalin pertemanan walau hanya sebuah hubungan palsu, hanya sebuah say hello. Ya, dulu. Kini, saya tak merasa harus menyapa orang jika saya sedang malas. Saya lebih memilih melengos dan pura-pura tak melihat. Saya tidak peduli. Entah sejak kapan, perasaan saya seperti mati. Redup. Tidak lagi memancarkan sinar hangat yang ramah yang dulu banyak dikagumi orang-orang. 

27 Agustus 2024, Malam meninggi, Pukul lebih dari 12 Malam. 

Mungkin, saatnya kuakhiri tulisan yang sudah tertunda 8 bulan ini. Ini hanya sebagai jurnal untuk yang ingin lebih mengenal. Karena aku tau, yang benar ingin mengenal akan membuka halaman ini.
 
    











Aku gelap

Aku pekat

Aku dalam. Titik terdalam di bawah bumi

Aku tidak terselami


ada bangkai yang mengendap di dasarku, tentang senja, hujan dan cerita yang tlah usai. 

Puisi cinta yang tlah habis kubaca. Menjelma menjadi seseorang yang tlah hidup.

di bawah jurang. Jurang lebar yang menganga

ia hidup. Sudah enam tahun ia hidup disana, karena ia adalah aku. dan aku di dalam ia

Banyak orang yang mencoba menyelami aku. Banyak yang tenggelam tanpa sempat mencari pertolongan. Banyak juga yang langsung keluar begitu tau betapa hitam dan mengerikannya aku.

Aku tidak tau kenapa aku sekarang berbentuk palung. Padahal dulu aku adalah bebukitan yang indah. Orang-orang menyukainya. Mereka disitu berlalu lalang, singgah dan bercengkrama. Di atas karpet bunga-bunga warna warni dihidangkan kopi hangat. 

Pada akhir suatu tahun, dimensiku membeku. Aku jatuh ke jurang, atas murka dan amarah para dewa. Jurang itu lalu menyatu denganku, membentuk perairan dalam dan dingin. Jurang misterius di bawah lautan, itulah aku. Palung mariana. Konon suhuku bisa mencapai satu derajat celcius. Tidak ada cahaya, dingin, minim oksigen, itu aku. Maka tak pernah ada yang berhasil menyelamiku. Karena aku mengerikan dan penuh misteri. 

Tapi orang-orang sering salah kaprah. Sebenarnya, aku adalah kehangatan. Aku bisa menghadirkan hangat bagi siapa pun yang membuatku nyaman. 

Tapi walau bagaimanapun, entah kenapa sekarang kepribadianku memang berubah. Aku tak terlalu senang bergaul. Aku berinteraksi hanya secukupnya. Aku lebih senang menyendiri di tempat-tempat sepi. Bersembunyi dibalik kesendirianku. Di ruanganku. Menulis sajak-sajak. 

Disini aku abadi, menunggu yang berhasil menyelam. Menyelam ke lubang hitam, bukan untuk karam, apalagi membuatku lebam. Namun untuk hidup bersamaku, tanpa perlu bertanya dari mana masa lalu ku.

Aku disini bersemayam, menunggu orang yang akan kucari saat terbangun karena mimpi buruk di tengah malam. Yang akan mencintai tanpa tapi. Yang tak kan meninggalkan hanya tuk menjadi sebatas ingatan. 

Aku hanya perlu menunggunya, meyakini segalanya akan pulih lagi. 

Ilustrasi Gambar Permukaan Palung Mariana [Google]




Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR

Ada fajar yang terus mencari senja, ia menjelajah ruang-ruang asing tanpa garis batas. Ada rahasia dibalik tirai yang tertutup rapat, pada musim layang-layang ia terlipat rapi. Ada Aku, yang tersimpan rapi dalam bingkai bernama Blog. Agar kaki ini mampu kemanapun, untuk selalu bersamamu.
Hi, I'm Dewi Arianna Manullang. Just an ordinary woman who loves coffee, poem, writing, blogging, and journaling very much. I currently live in Jakarta. In this blog I talk about many things. Nothing specific will be posted here. I will post anythings that interest me. Things that suit my mood, letting them flow in written form. For any business inquiries or collaboration, etc you may contact ariannadewi@gmail.com ❤

Follow us

POPULAR POSTS

  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • 2025: Tentang Gagal, Cinta, dan Melepas
    Seminggu sebelum pergantian tahun, Tulisan ini hampir dibuat namun karena kesibukan sempat tertunda. Siang ini, mung...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • Untuk Cinta yang mungkin sudah
      27 Oktober 2023, pada musim panas dan terik di Jakarta Utara, hari terakhir dari rangkaian pelaksanaan Akreditasi Klinik yang ...
  • BAKSO SAPI KANZLER [REVIEW]; Tinggal Dibuka, Langsung Dilahap
    Review Bakso Sapi Kanzler - Haii sobat blogger. Apa kabar kalian? Semoga semuanya dalam keadaan sehat selalu ya. Jadi aku mau c...

Categories

  • #dearjournal 13
  • #Kesehatan 7
  • #poem 11
  • BPNRamadhanChallenge2022 4
  • covid-19 5
  • donor darah 1
  • Foodie 8
  • Lifestyle 4
  • Partnership 5
  • Review 12
  • sajak 4
  • Sinema&Drama 3
  • syair 3
  • Vaksinasi booster 1
  • Viu 2
  • wisma atlet 2

Advertisement

Blogger Perempuan
BloggerHub Indonesia
Diberdayakan oleh Blogger.

Tiap kali kamu rindu, bertamulah ke dalam Blog ini. Disini ia bersembunyi, si perangkai sajak.

Dewi Arianna Manullang
DKI Jakarta, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Januari 2026 (1)
  • Maret 2025 (1)
  • Januari 2025 (2)
  • Agustus 2024 (1)
  • Juni 2024 (1)
  • Januari 2024 (1)
  • Mei 2023 (1)
  • Maret 2023 (2)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • September 2022 (2)
  • Agustus 2022 (1)
  • Juli 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Mei 2022 (1)
  • April 2022 (5)
  • Maret 2022 (8)
  • Februari 2022 (7)
  • Januari 2022 (1)
  • Beranda

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • RUJAK BUAH NONIK [FOOD REVEW], Cemilan Pilihan di Masa Pandemi
    Rujak Buah Nonik Review - Pandemi yang belum lekang, memang paling pas jika menu cemilan kita pun turut disesuaikan. Dari yang tadinya junk...
  • 33 Years Old Me: New Age and New Resolution
    Januari. Tulisan ini didedikasikan untuk Januari. Bulan spesial. Bulan nya Saya. Mungkin tak cukup spesial bagi semua orang. Tapi hal itu be...
  • Palung Mariana
    Aku gelap Aku pekat Aku dalam. Titik terdalam di bawah bumi Aku tidak terselami ada bangkai yang mengendap di dasarku, tentang s...
  • Rangkaian Penghalau Jerawat dari SCARLETT; Tetap Kinclong Dengan APD
    Penghalau Jerawat SCARLETT - Waktu berlari seperti jarak pendek, cepat namun tak tergesa. Tahun 2022, macan air...
  • Tahun 2023, Kelinci Air yang Sejuk
    Hiruk pikuk bunyi terompet dari kejauhan, kembang-kembang api yang menunggu memulai semburatnya di udara. Ini tentang malam perg...
  • Tiga puluh dua
    -4 Januari 2023, Jakarta, yang sedikit mendung- Rintik hujan jatuh turun memeluk bumi. Aroma laut teredam sementara, mungkin itu...
  • 2025, tahun penuh pertumpahan darah (?)
     Waktu menunjukkan hampir pukul 5 dini hari. Subuh. Hening. Tapi tidak dirumahku, alunan musik dj berkumandang kencang. Beberapa hari ini sa...
  • Untuk Cinta yang mungkin sudah
      27 Oktober 2023, pada musim panas dan terik di Jakarta Utara, hari terakhir dari rangkaian pelaksanaan Akreditasi Klinik yang ...

Pengikut

Advertisement

Copyright © 2016 Dewi Arianna Manullang. Created by OddThemes